• Profie TKIT Muadz Bin Jabal

    Taman Batita, playgroup dan TKIT Mu’adz Bin Jabal adalah taman kanak-kanak yang memadukan sekolah umum dengan model pesantren anak dengan harapan dapat menanamkan nilai-nilai agama sejak dini, membiasakan anak berprilaku islami dan menanamkan dasar-dasar untuk pengembangan aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Taman Batita, playgroup dan TKIT Mu’adz Bin Jabal ini berada di bawah Konsorsium Yayasan Mulia. Berada di dua lokasi, yaitu Kampus I menempati gedung milik dewan da’wah islamiyyah ( DDII) yang beralamat di jalan Nyi Pembayun dusun Karang, kelurahan Prenggan, kecamatan Kotagede, Yogyakarta dengan luas tanah sekitar 1500 m 2. Kampus II terletak di Kompleks Masjid Multazam Ketandan Baru RT1/RW 38 Banguntapan Yogyakarta.

    Letak Taman Batita, Playgroup danTKIT Mu’adz Bin Jabal yang cukup strategis ini, membuat minat orang tua untuk menyekolahkan putra-putrinya cukup besar. Apalagi dengan jam sekolah dari jam 08.00 – 14.30. Untuk TKIT Mu’adz Bin Jabal telah memulai aktifitasnya sejak tahun ajaran 1994/1995 dengan melalui 3 tahap perkembangan :
    - Tahap pertama dengan waktu seminggu tiga kali dengan jam belajar 90 menit
    - Tahap kedua dengan waktu belajar 6 hari di sore hari
    - Tahap ketiga sudah mulai fullday school
    Sedangkan untuk playgroup dan taman batita mulai beroperasi tahun 2001 dan langsung fullday school.

    II . VISI SEKOLAH
    Menjadi taman belajar unggulan, kebanggaan umat, yang melahirkan tunas bangsa yang berkepribadian islami
    III. MISI SEKOLAH
    1. Memberikan bekal dasar pada anak-anak untuk mencintai Al- Qur’an sehingga Al-Qur’an menjadi bacaan dan pandangan hidupnya sehari-hari.
    2. Memberikan bekal dasar pada anak-anak untuk menjadi pribadi
    muslim yang seimbang antara aspek rohani, akal dan jasmani.

    PROGRAM PEMBELAJARAN
    A. Program unggulan
    1. Tahfidz Al-Qur’an, Al Hadist dan Doa sehari-hari
    2. Belajar membaca Al-Quran
    3. Pengajaran Aqidah Interaktif metode ALIF dari KIBAR (Keluarga Islam Britania Raya)
    B. Program Pengembangan
    1. Program kemampuan dasar(sesuai kurikulum yang berlaku)
    2. Kunjungan Edukatif
    3. Percobaan Alam (sains)
    4. Kunjungan Edukatif
    5. Renang
    6. Manasik haji dan qurban
    7. Pesantren ramadhan & Mabit semester
    8. Kunjungan tokoh
    9. Bakti sosial
    10. Lukis
    11. Outbond
    12. Parenting Program
    Kegiatan Khusus
    Senin : Yaumi At Taujih
    Selasa : Selasa Sehat
    Rabu : English Day
    Kamis : Kamis Santun
    Jum’at : Special Day

    Kelas Yang dibuka:
    • 3 Kelas Batita (usia 6 bulan – 2 tahun)
    • 2 kelas Play Group (usia 3 – 4 tahun)
    • 3 kelas TKA (usia 4-5 tahun)
    • 2 kelas TKB (usia 5-6 tahun)
    Hari-hari ku di Sekolah…
    • Gerak Fisik
    Jasmani, gerakan yang melatih koordinasi, fleksibilitas, kepantasan dan keseimbangan tubuh.
    Brain GYM, senam otak berupa gerakan-gerakan tubuh sederhana untuk merngsang kerja dan fungsinya otak secara optimal dan seimbang, membuat anak lebih konsentrasi dan mudah dalam belajar.
    • Qir’oati
    Metode membaca Al Qur’an dengan CEPAT,TEPAT dan BENAR. Diharapkan anak dapat membaca Al Qur’an dengan kualits yang baik.
    • Tahfidz dan Tasmi’
    Dengan metode yang variatif, aplikatif dan kreatif menjadikan anak senang menghafal Al Qur’an, Hadits dan doa harian.
    • Kegiatan sentra
    Metode Sentra dipilih karena ”bermain” dijadikan sebagai kegiatan inti. Ada fokus kegiatan bermain yang ditata dan direncanakan untuk pencapaian tahap perkembangan kemampuan anak. Sentra yang dibuka:
    1. SENTRA PEMBANGUNAN (
    2. SENTRA BERMAIN PERAN
    3. SENTRA LIFE SKILL DAN PERSIAPAN
    4. SENTRA SENI DAN BAHAN ALAM
    (ADA FOTO MASING-MASING KEGIATAN SENTRA)
    • Kemandirian
    Stimulasi kemandirian melalui ketrampilan mengurus diri sendiri, seperti makan snack, makan siang bersama, gosok gigi, ganti baju, toilet training dan lain-lain, adalah untuk mempersiapkan kemandirian anak pada jenjang pendidikan berikutnya.
    • Pembiasaan Ibadah
    Rutinitas wudhu. Sholat berjamaah.berdoa dan berperilaku islami diharapkan akan tertanam pada diri anak. Sehingga kelak anak memiliki jiwa ikhlas, sabar dan senang beribadah.

    KURIKULUM
    KONSEP PENDIDIKAN ISLAM TERPADU

    Sebelum membahas tentang metode dan kurikulum yang diterapkan di Taman Batita dan Play Group Mu’adz Bin Jabal, lebih dahulu ustadzah harus memahami Konsep Pendidikan Islam Terpadu, agar dalam pelaksanaan kegiatan belajar dan mengajar di taman batita maupun di play group Mu’adz bin Jabal senantiasa berada dalam ’kerangka’ keterpaduan dengan nilai-nilai keislaman dalam setiap aktivitas dan proses kegiatan belajar mengajar yang dilakukan.

    Mengambil dari makalah yang disampaikan oleh Bapak Ery Masruri, secara paradikmatik, Konsep Pendidikan Islam Terpadu mengacu kepada 5 prinsip dasar kehidupan sebagai berikut :

    1. Kesempurnaan Islam sebagai Dien, bahwa Islam sebagai pedoman hidup, ajaranya telah menyentuh seluruh aspek kehidupan manusia
    2. Status manusia, sebagai Kholifah fil ardi,yang karenanya manusia memerlukan kekuatan dan ketrampilan fisik, kecerdasan intelektual, serta kematangan emosional.
    3. Tugas manusia sebagai ’abdullah’, yang memerlukan sikap ketundukan jiwa/taat hukum karena sadar akan kekuasaanny-Nya.
    4. Kewajiban orang tua mendidik anak, dimana setiap anak terlahir dalam keadaan suci, dan setiap orang tua bertanggung jawab menjaga (mendidik) anaknya agar tetap dalam kesucian (Keislaman)nya.
    5. Kewajiban Da’wah, dimana setiap orang berkewajiban untuk menyampaikan nilai-nilai kebenaran dan mencegah kerusakan (melekukan perbaikan/pendidikan) terhadap masyarakatnya.

    Dengan lima prinsip dasar tersebut, maka Pendidikan harus dirancang secara terpadu, dimana aspek keterpaduannya meliputi :

    1. Keterpaduan Kurikulum

    Sebagai kpnsekwensi logis dari konsep ” hidup untuk ibadah” adalah tidak adanya dikotomik ’dunia- akhirat’. Setiap aktivitas harus merupakan representasi kerja kekahalifahan (pemeliharaan dunia), sekaligus pengabdian kepada Allah SWT (berimplikasi pada kebahagiaan akhirat). Hal demikian akan terwujud, hanya jika alam semesta (realitas obyektif) dipahami sebagai fenomena dari realitas hakikinya (kekukasannya). Sehinnga setiap interaksi yang terjadi, baik,fisik, mental maupun intelektual selalu dalam rangka dan berdampak kepada pengagungan Penciptanya.

    Dengan kerangka pemahaman seperti demikian ,maka kurikulum dirancang tidak hanya untuk mengembangkan kemampuan fisikal dan kecerdasan intelektual saja , tetapi seluruh potensi fitri manusia secara kaffah, yakni kecerdasan intelektualnya,kekuatan dan ketrampilan fisikalnya, kematangan sosial emosionalnya, serta sikap jiwa yang tunduk kepada hukumNya ( eimanan dan ketakwaannya ).

    Pada dataran operasional, hal ini berkonsekwensi pada dua hal :
    1) Seluruh aktivitas diposisikan sebagai proses belajar mengajar, yang dirancang guna mengembangkan fikir dan dzikir secara bersama

    2) Seluruh komponen pembelajaran harus saling terkait satu dengan lainya, sehingga membentuk jaring laba-laba (spider web) pembelajaran

    2. Keterpaduan Iman, Ilmu dan Amal

    Iman,ilmu dan amal adalah tiga hal yang tidak bisa dipisahkan. Dimana kesempurnaan Iman sangat ditentukan oleh kedalaman ilmu, dan dari keduanya berbuah amalan baik. Sebaliknya, amalan baik akan menjadi inspirasi (wasilah) ilmu, sehingga iman pun semakin bertambah dalam. Sedangkan iman yang dalam ,akan memancarkan ilmu dan berbuah amal kebaikan.

    Dengan keangka pemahaman seperti demikian, maka setiap aktivitas dalam proses belajar mengajar diformat dalam satu kesatuan; iman, ilmu dan amal. Sehingga setiap materi pembelajaran tidak hanya dihadirkan sebagai wacana, tetapi utuh dengan aktualisasinya.

    Dalam pelaksanaannya, hal ini menuntut adanya :
    1) Komitmen keuswahan (konsistensi perilaku) dari seluruh jajaran, terutama pendidik (ustadzah). Karena aktualisasi dari nilai-nilai yang diajarkan, peertama kali akan dilihat anak/siswa pada diri ustadzah/pengajarnya.
    2) Penegakan amar ma’ruf nahi munkar sebagai kontrol moral antar personal
    3) Penguasaan kontektualitas (kemampuan aplikatif) ustadzah terhadap materi yang diajarkannya
    4) Ketersediaan program dan sarana pembelajaran yang mendukung


    3. Keterpaduan Pengelolaan

    Keempat tuntutan diatas membawa konsekwensi pada pengelolaan belajar mengajar. Dimana setiap aktivitas harus dipandang sebagai proses pendidikan . Sehingga proses belajar mengajar , harus dipahami tidak terbatas hanya tatap muka di dalam ruang kelas saja ,tetapi berlangsus sejak ketika anak datang ke sekolah sampai ketika dia pulang ke umah. Dengan demikian , setiap sesuatu baik peristiwa, barang maupun orang ( siswa ,guru, pengurus yayasan bahkan tamu sekaligus) yang berada di lingkungan sekolah , harus selalu dikelola (diposisikan dan memposisikan dirinya sebagai media, obyek sekaligus subyek pendidikan, yang setiap aktivitasnya dikoordinasikan (disinkronkan) kedalam proses pendidikan

    4. Keterpaduan Program

    Keberhasilan sebuah program sangat tergantung dengan tingkat konsistensi dan kontinuitas penyelenggaraannya. Dalam kontek pendidikan , dimana prosesnya berjalan sepanjang masa ( sejak dalam kandungan sampai liang lahat) koordinasi program antar tiga pilarutamanya : keluarga, sekolah dan masyarakat menjadi prasarat yang tidak bisa ditinggalkan.Hal demikian dapat dipenuhi, hanya jika semua pihak melwetakkan pendidikan sebagai kewajibanya,dimana :
    1) Keluarga harus membangun paradigma baru, dimana rumah dilihat sebagai sekolah pertama bagi anak, dan orang tua sebagai guru utamanya.
    2) Sekolah sebagai institusi strategis penentu arah peradaban
    3) Masyarakat adalah ladang persemaian, yang harus diolah dan dijaga kesuburannya.

    Relasi antar ketiganya bersifat sinergis. ’kemitraan’. Dimana lembaga sekolah merupakan institusi da’wah (sosial) yang sedang melakukan tugas perbaikan (pendidikan), bekerja sama dengan keluarga dalam menyiapkan kemampuan anak (generasi penerus) untuk mengambil peran masa depannya (membangun peradaban). Dalam hal ini, karena programnya yang lebih spesifik pendidikan, sekolah harus mengambil inisiatif, dengan merumuskan serangkaian program yang sinergis , dengan melibatkan keluarga (wali urid) dan masyarakat secara optimal.





    METODE PEMBELAJARAN


    Dalam pemilihan metode pembelajaran untuk anak usia dini, metode yang dipilih harus memuat bebeapa hal sebagai berikut :

    1. Metode bermain sambil belajar
    2. Metode yang berpusat pada anak
    3. Metode yang memfasilitasi kecerdasan holistik
    4. Metode yang menjadikan lingkungan sekitar sebagai media dan sumber belajar
    5. Metode yang membawa anak merasa dihargai,dipedulikan, nyaman, aman, bebas berkreasi, bebas menuangkan ide-idenya
    6. Metode yang sesuai dengan tingkat usia /perkembangan psikologis, dan kebutuhan spesifik anak
    7. Metode yang relatif mudah dilasanakan pada keadaan terbatas


    A. PEMBELAJARAN DENGAN METODE BERMAIN

    Bermain adalah dunia anak. Bermaian adalah kebutuhan penting anak. Melalui permaianan bermutu dan dampingan orang dewasa serta dukungan lingkungan bermain yang juga bermutu, anak akan belajar banyak hal. Bermain adalah kegiatan yang ditunjukkan untuk mendapatkan kesenangan. Bermain bagi anak membantu mereka memahami dan mempraktekkan kemampuan pengembangan rasa , ,sosial, dan keterampilan sosial ,itelektual. Bermain harus dilakukan dengan rasa senang sehingga semua kegiatan bermain akan menghasilkan proses belajar pada anak.

    Manfaat yang didapat anak saat bermain antara lain :

    • Bermain dapat mengembangkan emampuan sosial, emosional, intelektual, fisik
    • Bermain sebagai wahana untuk menyalurkan surplus energi
    • Melatih ketrampilan hiduf (life skill)
    • Melatih kemampuan mengatasi masalah
    • Saat bermain anak membangun pengetahuannnya ( pengetahuan akan nilai-nilai agama, pengetahuan fisik,logika matematika,pengetahuan sosial dan pengetahuan diri sendiri)
    • Saat bermain anak membangun konsep dirinya

    Agar pembelajaran dapat berlangsung dengan metode bermaian efektif, maka ustadzah harus menyiapkan lingkungan ermaian yang bermutu tinggi, tercermin dari ketersediaan sarana bermaian yang mendukung tiga jenis main :

    1. Main Sensorimotor
    Adalah kegiatan yang menggunakan gerakan otot kasar dan halus serta mengeksplor seluruh indera tubuh untuk mendapatkan rasa dan fungsi indera. Anak usia dini belajar melalui panca inderanya dan melalui hubungan fisik dengan lingkungan mereka. Main sensorimotor penting untuk mempertebal sambungan antar neuron, contoh main sensorimotor, misal bermain air, pasir, meraba bji-bijian kasar halus,dsb

    2. Main Peran
    Main peran disebut juga main simbolik, pura-pura ,fantasi,imajinasi, dimana anak
    Mengekspresikan gagasannya melalui gerakan tubuh atau benda lainnya. Menurut Vygosky, main peran angat penting untuk perkembangan kognisi, sosial, emosi anak pada usia tiga sampai enam tahun. Jenis main peran : Makro, Anak berperan sesungguhnya dan menjadi seseorang atau sesuatu. Saat anak memiliki pengalaman sehari-hari dengan main peran makro (tema sekitar kehidupan sehari-hari anak), mereka belajar banyak ketrampilan pra akademis seperti mendengarkan, etap dalam tugas, menyelesaikan masalah, dan bermaian kerjasama dengan yang lain. Mikro , Anak memegang atau menggerak-gerakkan benda-benda berukuran kecil untuk menyusun adegan. Saat anak main peran mikro, mereka belajar untuk menghubungkan dan mengambil sudut pandang dari orang lain.

    3. Main Pembangunan
    Adalah membuat hasil simbolik dengan menggunakan bahan main untuk menghadirkan gagasan pikiran, jika pada tahap awaal anak bermain sensorimotor denga melihat, menyentuh dan memegang bahan main, maka tahap berikutnya anak akan menggunakan mainan untuk untuk menghasilkan sebuah karya. Menurut Piaget, Main pembangunan membantu anak mengembangkan ketrampilan yang mendukung tugas-tugas sekolahnya dikemudian hari, contoh main pembangunan, main balok, plastisin, bermain lego. Dalam main pembangunan dikenal dengan istilah:
    1) Main pembangunan dengan sifat cair, yaitu main pembangunan dengan menggunakan bahan yang bentuknya bisa mengikuti keinginan anak. Misal, main pembangunan dengan menggunakan krayon atau plastisin
    2) Main pembangunan sifat terstruktur, yaitu main pembangunan yang penggunaan bahan main dikontrol oleh bentuk dari bahan tersebut. Misal main balok,lego

    B. METODE SENTRA DAN LINGKARAN

    Dengan mempertimbangkan metode bermain dalam belajar, maka metode pembelajaran yang digunakan di Mu’adz bin Jabal adalah metode sentra dan lingkaran. Alasan menggunakan metode pembelajaran sentra karena sentra belajar dirasa cukup bisa memberikan manfaat sebagai berikut :
    1. Anak anakan mengembangkan ketrampilan sosial saat beraksi dalam bentuk kerjasama dengan anak lain, berbagi materi dan saling mengajar.
    2. Sentra mendorong terjadinya komunikasi karena anak bisa bisa bicara dan mengekspresikan dirisecara verbal dengan bebas
    3. Anak bisa bergerak dan aktif, sehingga diharapkan akan terjadi sedikit masalah disiplin dan pelanggaran peraturan
    4. Sentra belajar melibatkan penggunaan lebih dari satu indra
    5. Sentra mendorong anak belajar sesuai dengan kecenderungan belajar anak (unik)
    6. Sentra memungkinkan anak bekerja mandiri, dalam kelompok kecil atau dalam posisi satu lawan satu dengan gurunya.
    7. Sentra bisa mengakomodir berbagai kemampuan dan minat anak karena anak bisa belajar sesuai dengan kecepatannya
    8. Kreativitas rasa ingin tahu dan sifat ingin mencoba (eksprimentasi) bisa dikembangkan melalui sentra
    9. Sentra belajar memungkinkan memanfaatkan waktu dan ruangan kelas serta materi yang paling efektif
    10. Sentra belajar mendorong anak untuk mandiri, mengambil keputusan dan menyelesaikan masalah.
    11. Sentra memberikan kesempatan utuk adanya keanekaragama dan fleksibilitas dalam hal materi dan kegiatan belajar
    12. Dengan sentra belajar, anak bisa mengulangi kegiatan untuk memperkuat ketrampilan atau kesenangannya.



    Ciri-ciri dari metode Sentra dan Lingkaran adalah :

    1. Pembelajarannya berpusat pada anak
    2. Pembelajarannya dengan metode bermain
    3. Menempatkan setting lingkungan main sebagai pijakan awal yang penting
    4. Memberikan dukungan penuh kepada setiap anak untuk aktif, kreatif dan berani mengambil keputusan sendiri
    5. Peran ustadzah sebagai fasilitator, motivator, dan evaluator
    6. Kegiatan anak berpusat di sentara-sentra main yang berfungsi sebagai pusat minat
    7. Terdapat empat pijakan , yaitu pijakan lingkungan, pijakan sebelum main, pijakan saat bermaian, dan pijakan setelah bermain
    8. Pijakan sebelum dan pijakan setelah bermain dilakukan dalam posisi melingkar


    B.1 SENTRA-SENTRA MAIN SEBAGAI PUSAT KEGIATAN MAIN

    Sentra main adalah tempat bermain sambil belajar untuk merangsang aspek pengembangan kemampuan dasar dan aspek pengembangan pembiasaan dan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Dimana kegiatan main yang ada di dalamnya ditata dan direncanakan untuk dapat mencapai tahapan perkembangan kemampuan anak.

    Jumlah dan jenis sentra yang dibuka tahun ajaran 2007/2008 di kelompok Batita : sentra irama dan gerak, sentra main peran, sentra pembangunan,sentra bahan alam dan sentra life skill dan persiapan. Untuk Play Group/TK : sentra main peran, sentra pembangunan, sentra seni dan bahan alam, sentra life skill dan persiapan. Dalam semua kegiatan main di sentra semuanya diintegrasikan dengan pengembangan keimanan dan ketakwaan dan penanaman nilai-nilai keislaman.

    1. Sentra Bermain Peran,adalah tempat bermain yang ditata dan direncanakan yang menyediakan berbagai alat dan bahan main yang menunjang permainan peran mikro dan makro.

    2. Sentra bermain pembangunan, adalah tempat bermain yang ditata dan direncanakan yang menyediakan berbagai alat dan bahan main yang mendukung kegiatan main pembangunan terstruktur dan main pembangunan sifat cair.

    3. Sentra sains dan bahan alam, adalah tempat bermain yang ditata dan direncanakan menyediakan berbagai bahan alam, dan berbagai alat dan bahan yang mendorong anak melakukan percobaan dan menemukan konsep iptek.

    4. Sentra seni dan kreativitas, adalah tempat bermain yang ditata dan direncanakan yang menyediakan berbagai alat dan bahan main untuk mengembangkandaya cipta, seni,daya pikir dan kreativitas anak.

    5. Sentra Skill dan persiapan, adalah tempat main yang ditata dan direncanakan yang menyediakan berbagai alat dan bahan main, yang mendorong minat terhadap baca, tulis, hitung dan mendukung mengembangkan life skill anak untuk persiapan memasuki tahapan belajar selanjutnya.
    6. Sentra Irama dan gerak (khusus batita), adalah tempat main yang ditata dan direncanakan yang menyediakan berbagai alat dan bahan main yang mendorong perkembangan gerak motorik halus dan motorik kasar anak, serta melatih kepekaan irama,ritme, melodi anak
  • Tidak ada komentar:

    Posting Komentar